Saya Rindu Dunia Pesantren

08-07-2020 14:40:06

PENGANTAR - Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi, bersilaturahmi ke Kantor Harian Serambi Indonesia, di Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (7/7/2020). Sarkawi datang hanya ditemani seorang ajudan. Hampir dua jam pria yang akrab disapa Abuya itu ‘berkeluh-kesah’ dengan jajaran redaksi Serambi Indonesia, termasuk soal kesehatan dirinya.

Seusai pertemuan itu, wartawan Serambi, Said Kamaruzzaman dan Syamsul Azman, mendapat kesempatan untuk melakukan Wawancara Eksklusif dengan Sarkawi terkait berbagai masalah, mulai soal rencana mundur yang pernah disampaikannya hingga tentang program ketahanan pangan yang kini mulai direalisasikan. Berikut petikan wawancara lengkap dengan Abuya:

Bagaimana kondisi Anda saat ini?

Kondisi saya baik, meski masih harus melakukan terapi. Setiap pagi saya harus melakukan gerakan-gerakan tertentu. Dari pihak rumah sakit pada waktu tertentu hadir ke pendopo dan saran mereka saya masih harus melakukan terapi secara berkala. Secara umum, saat ini saya merasa sudah baik.


Sebelumnya Anda sempat menyatakan mundur karena merasa kurang sehat. Apakah kondisi kesehatan Anda memang sudah memengaruhi kinerja di pemerintahan?

Karena sakitnya sudah lama, terakhir 2013 saya berobat. Jadi, sejak 2013 kemarin saya nyaris tidak berobat lagi karena tidak punya waktu untuk berobat secara khusus. Maka, kemudian saya merasa kumat betul. Kata keluarga, ya sudah istirahat saja. Kondisi saya kemarin itu mungkin karena kurang disiplin menjaga waktu istirahat dan menjaga pola hidup dalam melayani masyarakat. Jadi, itu yang kemudian terasa sebenarnya kedua-duanya, bebannya, karena tidak pernah lagi berobat.

Secara umum publik melihat Anda sehat-sehat saja karena selalu aktif, sehingga sempat muncul dugaan bahwa rencana mundur itu karena adanya tekanan politik?

Saya kalau bergerak malah lebih ringan. Pas saya bergerak, aktivitas berjalan saya lebih ringan. Tapi, setelah pulang ke rumah, kemudian saya merasa sakit. Kalau saya duduk lama, saat akan tidur, bangun tidur, itu terasa sekali sakit. Kalau saya bergerak, berjalan, itu normal seperti tidak ada masalah. Problemnya di tulang bagian belakang. Kalau lama duduk itu sakit.

Mungkin banyaknya beban kerja di pemerintahan memengaruhi kesehatan Anda?

Otomatis, ketika kita menjalankan tugas itu kan membuat pola hidup berbeda. Waktu istirahat, pola makan, itu memberi tekanan.

Politik di Bener Meriah dinamis sekali. Sejauh mana pengaruhnya terhadap kesehatan Anda?

Itu biasa dinamika-dinamika seperti itu, ada di setiap daerah. Kalau dilihat secara keseluruhan ya, biasalah seperti daerah lain.

Kini Anda merasa sudah lebih sehat setelah cuti berobat. Itu berarti tidak jadi mundur sebagai Bupati seperti rencana sebelumnya?

Nah, karena ada perbaikan-perbaikan, kondisi dan sudah konsultasikan ke Pak Gubernur, Mendagri, jalani saja dulu, tapi apa pun yang terjadi ke depan tentu sangat dipengaruhi oleh kondisi kami sendiri.

DPRK sudah menyurati Anda mempertanyakan rencana mundur yang pernah disampaikan sebelumnya, Anda sudah menjawab surat itu?

Tentu, semuanya tidak harus dijawab secara formal, tapi kami terus berdiskusi dengan kawan-kawan dewan, terus berkomunikasi dan semua hal-hal seperti ini sudah dikomunikasikan.

Bagaimana pendapat keluarga saat Anda ungkapkan rencana untuk mundur?

Ya, sejujurnya sebenarnya keluarga dan anak-anak agak berat ya ketika saya ambil opsi untuk berobat, karena maunya anak-anak saya untuk istirahat di pesantren.

 

Maksudnya, keluarga ingin Anda mundur?

Artinya agar kembali saja ke pesantren. Jadi, ketika saya ikhtiar untuk berobat, anak-anak khususnya menangis. Artinya, mereka berharap saya di pesantren saja. Mereka ingin saya berobat di pesantren, tidak lagi jadi bupati, jadi biar fokus.

Apakah Anda merasa syok karena dunia pesantren berbeda sekali dengan politik?

Sebenarnya karena asal-usul saja di sana, tentu wajar ya alami ya. Saya rindu dengan dunia pesantren.

Berapa lama Anda di pesantren?

Saya lahir dan besar di pesantren, orang tua saya juga pimpinan pesantren. Namanya Pesantren Bustanul Arifin. Ya, lahir, besar sampai hari ini di pesantren. Kalau di pesantren tempatnya terbatas, berbeda dengan posisi sekarang luas ke masyarakat, bedanya seperti itu. Tapi dua-duanya memberi manfaat. Di posisi ini memberi manfaat, di pesantren juga memberi manfaat.

Tanpa wakil bupati, Anda merasa beban kerja begitu tinggi?

Sebenarnya dengan Sekda, dengan dinas-dinas terkait, sangat membantu kami menjalankan tugas. Cuma, karena sekarang ini masih memungkinkan untuk tidak adanya wakil, jadi keberadaan wakil tentu saja akan sangat membantu kami, walaupun dengan kondisi saat ini dengan Sekda dan dinas-dinas yang solid sebenarnya pekerjaan-pekerjaan pemerintah tertangani. Hanya karena ini masih ada ruang untuk keberadaan wakil, jadi membantu kita. Sangat membantu, bukan berarti karena kondisi seperti sekarang ini terbelengkalai, terabaikan, tidak. Dinas, Sekda, secara teknis mereka melaksanakan tugas masing-masing.

Tadi Anda sempat menyinggung gaji bupati Rp 6 juta per bulan. Layakkah seorang bupati mendapatkan gaji sebesar itu?

Ya, sebenarnya ini kebijakan nasional ya, kebijakan presiden, menteri. Memang sudah waktunya untuk mengkaji ulang besaran gaji kepala daerah dengan beban kerja, risiko jabatan yang luar biasa. Gaji yang seperti itu sudah tidak layak dengan kondisi saat ini.

Anda juga bilang masyarakat sulit percaya kalau dikatakan bupati tidak punya uang. Lalu bagaimana kiat Anda menolak permintaan masyarakat saat tidak punya uang?

Biasanya kita carikan solusi, kadang-kadang minta bantuan pada dinas-dinas yang ada anggaran di situ. Yang penting ada yang bisa kita bantu, selalu berusaha dipenuhi dan kadang-kadang masyarakat juga kebutuhannya mendesak. Jadi solusi yang harus terus dicari, meskipun katakanlah seperti tadi, bupati tidak punya uang.

Bisa dijelaskan sejauh mana tingkat kemiskinan di Bener Meriah?

Ada penurunan 1 sekian persen, dari angka berapa saya agak lupa. Setiap tahun ada penurunan, secara konsisten ada penurunan angka kemiskinan di Bener Meriah. Ada perbaikan, karena memang indikator penilaian angka kemiskinan itu yang bagi sebagian masyarakat kita dianggap tidak apa-apa, namun ternyata di BPS itu menjadi salah satu indikator angka kemiskinan.

Contoh kamar mandi. Umumnya dibangun kamar mandi komunal di masjid, kamar mandi umum yang digunakan oleh masyarakat, sehingga di rumah masyarakat tak tersedia toilet atau WC. Meskipun dia mampu dan ada mobil, tapi tidak punya toilet karena masih menggunakan WC komunal. Ini masalah mindset.

Kedua, sumber air minum itu tidak menggunakan pipa, karena kampung di Bener Meriah tersebar di pinggir gunung. Kita masih menggunakan air alami dari hutan dialirkan ke penampungan dan dikirim ke rumah warga. BPS menganggap ini golongan miskin. Jadi parameter BPS dengan kondisi real tidak ketemu.

Banyak yang mengapresiasi program ketahanan pangan di Bener Meriah, karena sejalan dengan physical distancing dan social distancing. Sejauh mana progress-nya?

Kemarin itu di awal Covid-19 ini ada pukulan ekonomi, karena sejak itu keran ekspor terganggu khususnya kopi. Kita diskusi dengan teman-teman untuk membuat sebuah upaya penguatan ketahanan pangan sambil melakukan physical distancing. Bener Meriah melakukan inovasi besar. Warga Bener Meriah tidak terisolasi di rumah, tapi diajak produktif dengan berkebun sekaligus menerapkan physical distancing, yang sejalan dengan program pencegahan penularan virus Corona.

Anda memplot anggaran untuk mendukung warga berkebun?

Di kebun mereka rata-rata bisa menanam sesuatu, mungkin mereka punya kendala tidak punya bibit. Maka kita masuk dengan program ketahanan pangan. Social distancing dan ketahanan pangan dilakukan secara bersamaan. Kebetulan di desa-desa kita punya 13 program strategis. Ini semua kita revisi. Kita arahkan ke tiga sektor, penanganan Covid di desa, BLT, dan ketahanan pangan. Ini yang kita lakukan pada seluruh masyarakat Bener Meriah sesuai dengan imbauan tentang ketahanan pangan mengenai ada potensi krisis pangan.

Saat ini sudah sejauh mana realisasi program tersebut?

Posisi terkini saya belum mendapat informasi dari dinas terkait, tapi sekitar hampir dua minggu lalu itu sudah sekitar 70 persen. Ada sekitar 223 warga yang sudah melakukan penanaman dan ini berkembang terus dan berproses. Mereka kita ajak ke sektor produktif, karena sebelumnya ada enam jenis bantuan yang mungkin sifatnya konsumtif instan seperti PKH dan BLT.

Bantuan bibit bersumber dari dana desa?

Iya dari dana desa. Kita buatkan Perbup agar bisa dilakukan pada lebih dari 46 ribu keluarga.  Ya, sekitar Rp 20 miliar. Langsung desa sendiri yang melakukannya.

Kabarnya Bener Meriah juga meraih WTP atas laporan keuangan tahun 2019?

Sudah. Alhamdulillah, Bener Meriah sudah enam kali berturut-turut mendapat WTP, dapatnya sekitar satu atau dua minggu yang lalu. Ini sebuah prestasi, penghargaan kepada teman-teman dinas yang bekerja di sana dengan baik. Ada juga kerja sama dengan legislatif, sehingga kita enam kali berturut-turut  mendapat WTP dari BPK plus dari predikat B tahun kemarin dari Kemen-PAN RB.

Apa harapan Anda?

Sebenarnya kami pribadi sebagai kepala daerah mengharapkan kepada semua pihak yang konsen dengan kopi dan ekonomi masyarakat untuk menghadapi dengan baik kemungkinan-kemungkinan ke depan. Sebagai informasi, kopi-kopi kita yang kemarin masih banyak yang menumpuk di gudang, belum diekspor keluar, sementara ini akan ada produksi baru. Pada bulan 9 dan 10 akan panen lagi. Tentu ini harus kita carikan solusi bagaimana menghadapi panen baru, sementara kopi kemarin belum keluar. Karena itulah butuh kebijakan strategis dari pemerintah atasan, dari Pak Gubernur dari Pak Menteri, terutama Pak Presiden agar ada solusi untuk panen besar kopi. Kami khawatir bahwa ketika ekspor ini belum dibuka, maka akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Daya beli masyarakat akan jatuh dan kopi kita juga akan menghadapi kendala serius.

Sumber : https://aceh.tribunnews.com

 

 

 

 

Facebook Fans Page